LJP Law Office | Rukan Sentra Niaga Blok C No. 5 Green Lake City, West Jakarta | Phone: 021-2252-6036
| Email: ljp [at] ljplawyer [dot] com | Our website is under construction.


» PR Newswire Feeds «

Dapatkah Istri Mengajukan Kepailitan terhadap Suami?


Yth. LJP Lawyer, saya sudah berumah tangga selama kurang-lebih lima tahun lamanya. Namun, ketidakcocokan karakter kerap membuat saya dan suami kerap terlibat keributan. Selama dua tahun terakhir, suami tidak lagi memberikan nafkah atau bekal hidup, baik kepada saya atau anak. Pertengkaran kami terus meruncing hingga akhirnya kami memutuskan untuk bercerai dan menjalani kehidupan masing-masing. Pembagian harta bersama ("gono-gini") dapat diselesaikan, sebab kami menandatangani perjanjian pranikah. 

Meski begitu, saya sebagai istri ingin menuntut "ganti-rugi" karena hak saya atas nafkah hidup selama dua tahun terakhir hilang begitu saja. Tetapi, mantan suami saya itu menolak mentah-mentah tuntutan tersebut. Pertanyaan saya, apakah saya bisa mengajukan kepailitan terhadap suami saya dalam proses perceraian nanti? Karena, saya praktis menanggung sendiri seluruh biaya hidup saya dan anak selama beberapa tahun terakhir. Salam, P di Kota T. 

Jawab: Sebagai institusi, perkawinan memang membawa dampak hukum kepada suami maupun istri, terutama menyangkut harta benda. UU No. 1 Tahun 1974 mengatur soal harta benda dalam perkawinan secara jelas. Ada dua kategori, yakni harta bersama (harta yang diperoleh selama perkawinan) dan harta bawaan (harga yang diperoleh dari warisan atau hadiah).

Selain itu, Pasal 34 UU Perkawinan juga memuat soal hak dan kewajiban suami-isteri, sebagai berikut:

  1. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.  
  2. Isteri wajib mengatur urusan rumah-tangga sebaik-baiknya.
  3. Jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan.

Kepailitan dan Utang

Kami berupaya memahami latar belakang Anda dalam menuntut "ganti-rugi" atas perlakuan mantan suami yang tidak lagi memberikan nafkah hidup kepada Anda dan anak selama dua tahun terakhir sebelum perceraian terjadi. Jika ingin menuntut kepailitan atas mantan suami, Anda memang mempunyai peluang tersebut karena tidak terikat dalam persatuan harta. Apabila Anda menyampaikan keberatan secara tertulis atau tersurat atas perlakuan mantan suami tersebut, Anda pun semakin memiliki dasar yang kuat. Setidaknya, Anda bisa menghitung dengan lebih pasti, sejak kapan mantan suami dianggap lalai memberikan nafkah.

Adanya utang memang merupakan dasar untuk memohonkan kepailitan. Dan, dalam kasus-kasus tertentu, utang dapat timbul berdasarkan suatu perjanjian atau perikatan. Dalam kasus Anda, perikatan tersebut berasal dari UU Perkawinan yang mengatur tentang kewajiban suami. Meski demikian, kami menyarankan Anda untuk bertukar pikiran lebih jauh dengan para ahli atau konsultan hukum mengenai kasus ini. (***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar